Profil Gelandang Persib: Atep

Dia adalah simbol kesetiaan dalam tubuh Persib. Atep memilih setia berkostum biru demi cita-cita masa kecil sekaligus obsesi besarnya, membawa pulang ke Bandung trofi juara Indonesia yang sudah lama hilang dan cita-cita itu terwujud pada musim 2014.
Bersama Hariono, Atep memanglah pemain aktif yang paling lama membela Persib. Selain punya masa bakti terlama, Atep yang mengenyam pendidikan sepak bola junior di UNI juga bisa dibilang menjadi ikon pesepak bola asli Jabar dan asli binaan akademi sepak bola Persib.
Atep merupakan pemain angkatan pertama era LSI musim 2008/2009 ketika Persib dibesut Jaya Hartono. Dia berkiprah di Persib junior pada periode 2002-2004. Sempat membawa Persib juara Piala Soeratin, Atep tak dilirik Persib senior. Rival Persib, Persija Jakartalah yang justru mengendus bakat besar Atep dan merekrutnya setelah tampil impresif bersama Persiba Bantul.
Performa apik dipamerkan Atep saat berbalut kostum Persija sehingga membuka lebar pintu tim nasional untuknya. Atep muda tampil bagus di Piala AFF 2008 dan mencetak gol. Performa apik di skuat utama Persija dan tim nasional membuat Persib akhirnya menyadari kualitas “anak hilangnya” itu.
Setelah gagal merekrut Atep pada musim 2007-2008, Persib akhirnya berhasil membawa pulang gelandang sayap yang punya akselerasi dan tebakan kaki kanan terukur itu pada musim 2008-2009 di era Jaya Hartono. Begitu menginjakan kaki di Bandung, Atep pun menegaskan tekadnya untuk membawa kembali trofi juara yang terakhir kali diangkat Persib pada 1994-1995.
Kehadiran Atep disambut hangat oleh para bobotoh, namun bukan berarti dia langsung menjadi pilihan utama. Atep justru lebih banyak duduk di bangku cadangan. Rajin menghangatkan bangku cadangan adalah periode buruk bagi pemain sepak bola. Jika tak sabar dan tak mencintai Persib, Atep bisa saja hengkang karena cukup banyak klub yang mengantre untuk bisa mendapatkan tanda tangannya. Akan tetapi, dia memilih setia dan yakin kesempatan akan datang.

Keinginan membawa Persib juara pula yang memperpanjang kesabaran Atep. Musim demi musim berlalu dan trofi juara itu tak kunjung datang. Baru pada musim keenamnya membela Persib, kesetiaan pemain kelahiran Cianjur itu berbuah trofi juara yang sudah diidamkan bobotoh selama 19 tahun.
Atep memegang peran vital dalam keberhasilan Persib menjadi juara. Ayah dua orang putri itu selalu dimainkan oleh Djadjang Nurdjaman dalam 28 pertandingan sampai laga final di Stadion Jakabaring Palembang 7 November 2014.
Dia memiliki rekor bagus dan bisa dibilang menjadi jimat keberuntungan bagi Persib pada musim 2014. Soalnya, setiap kali Atep mencetak gol, Persib selalu berakhir menjadi pemenang. Enam gol penting dia buat untuk memuluskan jalan maung Bandung menjadi juara LSI 2014 di Palembang.
Atep merupakan pemain yang tampil konsisten mencetak gol setiap musim. Dia turut berperan mengantarkan Persib juara Piala Presiden 2015. Pada edisi Piala Presiden 2017, Atep bahkan menjadi pencetak gol terbanyak Persib dengan empat gol meski gagal berujung trofi juara.***

fluid-structureinteraction.com prediksi togel sgp Sumber: Pikiran Rakyat